Wednesday, 5 March 2014

CONTOH ESSAI


                                                          KARANGAN ESSAI
MERONTAK INSAN BUMI PERTIWI MELIHAT NYA KEMBALI BERDUKA

A. PENGANTAR
B.ISI

1.1 Indonesia dalam Kondisi Darurat Bencana
- Gunung Kelud Dalam Status Waspada
-  4 Orang Tewas Akibat Abu Vulkanik Dari Gunung Sinabung di Tanah Karo .
                      1.2 Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Bencana Beserta Solusinya .
       

C.SIMPULAN

A.PENGANTAR
       Dewasa ini sama-sama Kita Ketahui Betapa banyak nya Kejadian-Kejadian Fenomena Alam  yang  Terjadi sebagai Ulah dari Tangan Manusia Yang Tidak Mau Bersahabat dengan Alam Semesta Kita ini Terkhusus nya lagi Bumi Indonesia Ini . Banyak Bencana yang terjadi akhir-akhir ini seperti Letusan Gunung Sinabung , Banjir bandang Manado , Banjir di DKI Jakarta , Gunung karakatau Yang di Prediksi mau meletus , Tanah Longsong , dan Masih banyak lagi Bencana Yang Terjadi di Indonesia Tercinta Kita ini .    ....... BACA SELENGKAPNYA
        Hal ini Sebenarnya Perlu kita Evaluasi Bersama , Akan kah Kita sudah Memberikan Yang terbaik bagi alam semesta ini , atau malah menjadi Sebaliknya akan lebih buruk . Sementara Tanpa kita sadari Nikmat yang Telah diberikan Tuhan Kepada kita  sangat Melimpah ruah di Alam ini , Namun hal-hal apakah yang sudah kita lakukan untuk alam ini .
      Faktor utama adanya Bencana adalah ketidak puasan Alam atas apa-apa Yang dilakukan manusia atas alam semesta ini , Ketamakan , Kerakusan , dan Sifat Manusia yang serakah Mengeksploitasi alam sebanyak mungkin tanpa memikirkan dampak yang terjadi membuat alam ini enggan ingin bersahabat dengan kita . Untuk itu sebenarnya Bukan lah Menjadi hal yang merugikan apabila Membuang sampah pada tempat nya , melakukan Penghijauan , dan menjaga Keseimbangan Antara Ekosistem Dan Lingkungan-lingkungan Yang ada , agar menjadi lingkungan yang sehat dan bersih .
      Untuk itu Kita Sebagai Manusia Yang bermoralitas tinggi dan berahklak Mulia , Marilah Sama-sama kita lestarikan lingkungan ini tanpa mengotorinya dengan hal-hal yang merugikan dan dapat merusak jagat raya Bumi Indonesia Ini . Apa jadinya nanti kalau Kehancuran Datang Pada Anak cucu kita sebagai balasan atas Perbuatan kita kini , Sebelum Terlambat  “Marilah Kita Berbenah Terlebih dahulu Untuk Hidup Panjang dimasa Yang kan dating .” Jangan Biarkan Bumi Merontak Insan Pertiwi Melihatnya kembali Berduka . 


B.     ISI
Bencana yang melanda sejumlah wilayah sejak akhir tahun lalu, mulai dari banjir, longsor, angin puting beliung, gelombang laut yang tinggi, hingga gunung meletus, belum berakhir, bahkan berpotensi masih akan terus terjadi. Banjir, misalnya, tak kunjung surut, bahkan terus meluas. Kondisi ini membuat sebagian besar wilayah Indonesia dalam kondisi darurat bencana.
Hingga Minggu (19/1/2014), banjir di Jakarta juga semakin parah. Hujan deras yang mengguyur hulu sungai dan wilayah Jabodetabek membuat saluran air dan 13 sungai di Jakarta meluap dan menggenangi 564 rukun tetangga di 30 kecamatan di DKI Jakarta. Ketinggian air sekitar 5 sentimeter hingga 3 meter. Kondisi ini membuat 30.784 warga harus mengungsi.
Banjir juga menggenangi sejumlah titik jalan di Ibu Kota, termasuk jalur utama ke Jakarta Utara, yakni ruas Jalan S Parman di Tomang dan Grogol, Jalan RE Martadinata dan Jalan Gunung Sahari di Pademangan Barat, serta Jalan Yos Sudarso di Sunter dan Kelapa Gading. Arus barang dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok pun tersendat, terutama di ruas Jalan Cakung-Cilincing dan Jalan Yos Sudarso. Di beberapa titik jalan, seperti Jalan S Parman, Jalan Boulevard Barat Kelapa Gading, dan Jalan Gunung Sahari, beberapa jenis kendaraan tak bisa melintas karena tinggi genangan 40-60 sentimeter.
Di Jawa, banjir hampir merata di seluruh wilayah, dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Banjir di Kabupaten Subang, Jawa Barat, kemarin menyebabkan jalur utama pantura putus, mulai dari Kecamatan Patokbeusi, Ciasem, Sukasari, Pamanukan, hingga Pusakajaya. Ketinggian air di ruas jalan tersebut hingga 60 sentimeter. Hingga berita ini diturunkan, jalur utama pantura Subang masih macet total dengan panjang antrean sekitar 1,5 kilometer di kedua arah.
Kepala Taruna Siaga Bencana Kabupaten Subang Jajang mengatakan, alur kendaraan dialihkan ke jalur tengah, yakni melalui Sadang-Kalijati-Subang-Cikamurang-Kadipaten-Cirebon. Namun, jalur alternatif itu pun macet. Banjir di Kabupaten Subang kemarin melanda 12 kecamatan dengan ketinggian air antara 30 sentimeter hingga 2 meter. Wilayah yang paling parah banjir adalah di Pamanukan, Ciasem, Pusakajaya, Sukasari, Legon Kulon, dan Tambak Dahan. Posko banjir di Pamanukan juga terendam air. Banjir di Jabar terjadi di 8 dari 28 kabupaten dan kota.
Kemacetan arus lalu lintas juga terjadi di jalur pantura (jalur Cirebon-Jakarta dan sebaliknya) di Desa Cilet, Simpang Sumber Mas, dan Desa Patrol, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu. Ruas jalan itu tergenang dengan ketinggian air 40 sentimeter. Banjir di Kecamatan Patrol terjadi sejak Jumat (17/1) dengan ketinggian air semula mencapai 1,5 meter.
Pada akhir tahun lalu, banjir juga menyebabkan jalur selatan di wilayah perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo di Jawa Tengah terputus. Saat itu sejumlah wilayah selatan Jateng banjir akibat meluapnya sejumlah sungai. Saat ini, banjir di Jateng terjadi di sejumlah wilayah utara, seperti Kota dan Kabupaten Pekalongan, Kota Semarang, Kabupaten Kudus, serta Kabupaten Pati. Banjir di wilayah utara Jateng ini cenderung lama surut karena pada saat bersamaan terjadi pasang air laut. Banjir di Kota dan Kabupaten Pekalongan, misalnya, terjadi sejak tiga hari lalu.
Di luar Jawa, banjir terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Di sejumlah wilayah bahkan terjadi banjir bandang, seperti di Manado, Sulawesi Utara; Kabupaten Dinggala, Sulawesi Tengah, dan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Utara.
Banjir bandang ini tidak hanya menimbulkan kerugian material karena jalan putus, bangunan termasuk rumah rusak, serta harta benda hilang, tetapi juga menelan korban jiwa. Di Manado, banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah menyebabkan paling tidak 16 orang meninggal dan sekitar 10 orang masih tertimbun. Selain itu, sekitar 40.000 orang harus mengungsi. Pemerintah menetapkan banjir di Manado sebagai bencana nasional.Rumah warga di Kelurahan Dendengan Dalam, Kecamatan Tikala, Manado, Sulawesi Utara, hanyut tersapu banjir bandang, Minggu (19/1./2014). Hingga kemarin, kondisi Manado yang porak poranda akibat banjir bandang belum pulih. Meski hujan masih terus turun, ribuan warga Manado tetap berusaha membersihkan rumah dan lingkungan mereka, dibantu sekitar 500 personel TNI.
Bencana alam di sejumlah wilayah di Indonesia yang terjadi sejak akhir tahun lalu itu menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit. Di Sulawesi Utara, misalnya, kerugian material akibat banjir bandang dan longsor di lima kabupaten/kota mencapai Rp 1,871 triliun. Di daerah lain, kerugian material belum terdata, tetapi yang jelas ribuan rumah dan gedung rusak, ribuan hektar lahan pertanian juga tergenang dan terancam gagal panen.Kerugian material akibat bencana juga dialami warga korban erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Paling tidak 1.204 rumah hancur akibat erupsi Sinabung, kerugian diperkirakan Rp 20 miliar. Jumlah kerugian tersebut belum termasuk kerugian akibat kerusakan lahan pertanian akibat tersiram abu vulkanik.
Ulah manusia Berbagai bencana yang terjadi di Indonesia saat ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Ada proses yang mendahuluinya, tetapi tidak sepenuhnya disadari berisiko buruk bagi manusia. Banjir, termasuk banjir bandang, dan juga tanah longsor yang setiap tahun terus bertambah bagaimanapun merupakan akibat perilaku manusia yang membuat kerusakan dimuka bumi karena keserakahannya. ”Bukan hanya soal cuaca, tetapi soal perilaku manusianya,” kata Direktur Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurno yang dihubungi dari Jakarta, Minggu.
Perilaku itu menyangkut kondisi di hulu maupun hilir. Di hulu, ada perilaku manusia yang membuat kerusakan dimuka bumi dengan membuka kawasan hijau atau menghilangkan daerah resapan dengan membangun mall atau membangun rumah didaerah resapan air. Di hilir, perilaku mempersempit aliran air atau mengambil alih jalan air. ”Persoalan itu ditambah minimnya kesadaran bersama, baik pemerintah, kalangan swasta, maupun warga bahwa apa yang terjadi merupakan musuh bersama yang seharusnya ditangani bersama,” kata dia. Yang terjadi, masing-masing saling mencari siapa yang salah.Ketua Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Amien Widodo mengatakan, sumber utama banjir, banjir bandang, dan tanah longsor adalah penggundulan hutan yang kian masif. Alih fungsi hutan untuk pertanian, perkebunan, dan permukiman membuat air hujan yang turun tak dapat diserap tanah dan langsung mengalir menuju tempat yang lebih rendah.
Sampah yang dibuang ke sungai membuat kedalaman sungai makin dangkal. Akibatnya, saat debit air sungai meningkat, terlebih lagi dalam kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang, air meluap hingga menggenangi banyak daerah di sepanjang aliran sungai. ”Pengerukan sungai tidak akan memberi manfaat banyak dalam jangka panjang jika bagian hulu sungai tidak ditata karena sedimentasi akan terus terjadi,” katanya.Hal senada dikatakan pakar lingkungan dari Universitas Diponegoro, Semarang, Prof Sudharto P Hadi. Dia menilai banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Air merupakan bencana ekologis, yaitu akibat menurunnya daya dukung lingkungan. Hal ini terjadi karena pola pembangunan saat ini yang lebih mengabdi pada pertumbuhan ekonomi. 1


Lokasi wisata Gunung Kelud di Jawa Timur ditutup dari wisatawan menyusul adanya peningkatan status gunung dari normal menjadi waspada, Minggu (2/2/2014). Pelaksana Teknis Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri, Edy Purwanto mengatakan, beberapa loket yang menyediakan tiket masuk wisata, sengaja diberhentikan operasionalnya. “Loket penjualan tiket kita tutup untuk menghindari komplain dari pengunjung yang tidak bisa masuk padahal sudah beli tiket,” kata Edy. Selain itu, dia menambahkan, penutupan itu untuk menghindari hal- hal yang tidak diinginkan terjadi atau menimpa para pengunjung. Gunung Kelud yang mempunyai ketinggian 1.731 Mdpl itu selama ini dimanfaatkan oleh Pemkab Kediri sebagai salah satu destinasi wisata. Di sana pengunjung disuguhi kubah lava pengganti danau kawah, teater vulkanologi Gunung Kelud, kolam air hangat, serta beberapa wahana lainnya. Sejak Minggu pagi, status gunung yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang itu dinaikkan dari normal menjadi waspada. Radius dua kilometer dari gunung, disterilkan dari aktivitas masyarakat. Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menghimbau masyarakat mematuhi aturan larangan masuk wilayah Gunung Kelud, menyusul meningkatnya status gunung dari normal menjadi waspada.
“Kami harap masyarakat mematuhi larangan petugas karena ini berbahaya,” kata Edy Purwanto, Pelaksana Teknis Kepala Bagian Humas Pemkab Kediri, Minggu (2/2/2014). Saat ini, Edy menambahkan, pihaknya sudah menutup akses menuju lokasi Kelud dalam radius dua kilometer. Hal itu sejalan dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh pihak pengawas Gunung Kelud. “Sekali lagi kami berharap masyarakat mematuhi peraturan yang ada. Itu demi keselamatan bersama,” imbuhnya. Sebelumnya, gunung yang mempunyai ketinggian 1.731 Mdpl itu sejak pagi tadi dinaikkan statusnya dari normal menjadi waspada. Gerbang akses masuk menuju lokasi sudah ditutup untuk umum. Menurut Edy, dalam radius dua kilometer itu tidak ada permukiman penduduk. Aktivitas yang ada kebanyakan adalah para pengunjung wisata Gunung Kelud maupun para petani. Gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, serta Kabupaten Malang itu dalam aktifivas terakhir pada 2007 silam, danau kawah berubah seiring munculnya kubah lava.

Empat orang dinyatakan tewas akibat terkena awan panas erupsi Gunung Sinabung, Sabtu 1 Februari 2014. Camat Payung Tony Sembiring mengatakan korban tewas adalah mahasiswa dan warga Sukameriah, Kecamatan Payung. Tony mengatakan dari penjelasan warga kepadanya, ada mahasiswa dipandu warga memasuki Desa Sukameriah sebelum erupsi terjadi. “Bahkan mereka sempat berfoto,” kata Camat Payung Tony Sembiring, Sabtu.Gunung Sinabung kembali memuntahkan debu panas sekitar pukul 10.30 WIB. Hujan debu panas mengguyur beberapa desa di Kecamatan Tiganderket, Kecamatan Simpang Empat. Hujan debu kali ini tergolong besar sehingga mempengaruhi jarak pandang di sekitar kaki Gunung Sinabung. Salah seorang yang tewas di antaranya warga Desa Sukameriah yang diduga sebagai pemandu jalan. “Jenazah sedang diotopsi di rumah sakit. Nanti akan kami sampaikan data diri korban tewas. Saat ini saya sedang di Desa Sukameriah di lokasi ditemukannya jenazah bersama musyawarah pimpinan kecamatan,” ujar Sembiring.
Empat orang dinyatakan tewas akibat terkena awan panas erupsi Gunung Sinabung, Sabtu 1 Februari 2014. Jasad empat orang itu ditemukan di Desa Sukameriah, Kecamatan Payung.Camat Payung Tony Sembiring mengatakan 4 korban tewas adalah mahasiswa dan warga Sukameriah. “Tadi dari penjelasan warga kepada saya ada mahasiswa dipandu warga memasuki Desa Sukameriah sebelum erupsi terjadi,” kata Camat Payung Tony Sembiring, Sabtu. Gunung Sinabung kembali memuntahkan debu panas sekitar pukul 10.30 WIB. Hujan debu panas mengguyur beberapa desa di Kecamatan Tiganderket, Kecamatan Simpang Empat. Hujan debu kali ini tergolong besar sehingga mempengaruhi jarak pandang di sekitar kaki Gunung Sinabung.
1.2  Faktor-Faktor  yang Mempengaruhi Terjadi nya Bencana .
·         Banjir
Faktor  yang Mempengaruhi terjadinya banjir adalah Karena kurang nya perhatian masyarakat  akan Kebersihan lingkungan dari tumpukan sampah yang ada disungai sehingga memperlambat jalan nya air dari hulu menuju hilir,sehingga apabila hujan turun dengan kapasitas tinggi mengakibatkan air sungai meluap dan mengakibatkan BANJIR  . sehingga menimbulkan berbagai macam problematika, susah air bersih , timbulnya berbagai macam penyakit,hingga mengalami kerugian dari berbagai macam Aspek Finansial . Jadi jangan pernah menyalahkan alam yang tidak bersahabat dengan kita , tapi Intropeksi dirilah Apakah yang mengakibatkan BANJIR itu terjadi ???Bukankah ulah Tangan manusia itu sendiri juga . dan juga perlunya Antara pembangunan dan Reboisasi  penanaman Hijau itu sangat perlu untuk Resapan Air Ketika Musim Hujan Tiba . Jauhi kebiasaan Membuang sampah Ke sungai / pun Waduk .

·         Tanah Longsor
Pristiwa geologi yang terjadi dikarenakan pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai type dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan tanah besar . Biasanya pristiwa longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu factor pendorong dan factor pemicu . Faktor pendorong ialah factor-faktor yang mempengaruhi kondisi material itu  itu sendiri  . sedangkan factor pemicu nya adalah faktor yang menyebabkan bergerak nya material tersebut ,walaupun penyebab utama nya pengaruh Gravitasi yang mempengaruhi suatu lereng yang curam, namun ada pula faktor EROSI yang disebabkan oleh sungai-sungai dan gelombang laut yang menyebabkan lereng tersebut menjadi curam . dan apabila terjadi hujan yang tinggi dapat mengakibatkan TANAH LONGSOR . Oleh karna itu Butuh nya Reboisasi penghijauan Yang mana Akar nya sebagai penahan ketika terjadi tanah longsor .
                             Gempa Bumi Faktor  yang mempengaruhi terjadinya Gempa bumi adalah pergerakan lempengan bumi  . Gempa Bumi dibedakan menjadi 2 type yaitu gempa bumi Tektonik dan Vulkanik,Gempa Bumi Vulkanik Disebabkan oleh adanya aktivitas magma yang biasa nya terjadi sebelum gunung api meletus ,sedangkan gempa tektonik terjadi karena adanya aktivitas tektonik yaitu adanya pergeseran tektonik secara mendadak yang mempunyai  kekuatan dari yang kecil hingga besar  . Oleh karena Itu Cintai lah Alam ini Dengan Tidak Mengeksploitasi secara berlebihan tanpa di imbangi dengan Penghijaun  dan melestarikan nya.
Letusan Gunung Api & Tsunami  Letusan Gunung Api Terjadi karena endapan magma di dalam perut bumi yang didorong gas bertekanan tinggi , Sedangkan Tsunami Terjadi Karena Perubahan Permukaan Laut Secara Vertikal Secara Tiba-tiba  bisa saja di sebabakan gempa Bumi Yang Berpusat dibawah Laut , Letusan Gunung Berapi dibawah laut , Longsor Bawah Laut atau Hantaman Meter dilaut , Gelombang tsunami dapat merambat kemanapun Tenaga yang terkandung Adanya Tsunami Tetap pada ketinggian dan laju nya . Dampak (-) Dari Tsunami menghancur kana pa saja yang dilalui nya(Rumah , Tumbuhan  , Hewan , Bahkan Manusia . 2

C . SIMPULAN
Inilah Bencana-Bencana alam yang terjadi di Indonesia Dan Saat Ini sedang terjadi di Indonesia . Sudah Saat nya Kita sebagai Warga Negara Indonesia Mempunyai Kesadaran Melindungi Alam Sekitar , Sehingga Bisa Mecegah Dan Memperbaiki Lingkungan Disekitar Kita  . Agar bisa Mengurangi Terjadinya Banjir Tanah Longsor dll .

     PENULIS : VICKY NANDA PUTRA
     SMA N 3 BANGKO PUSAKO

0 komentar:

Post a Comment

tulislah komentar yang baik, kalau kritik boleh untuk membangun blog

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites