Saturday, 27 April 2013

DONGENG BAHASA INGGRIS/INDONESIA - LEGENDA PUTRI HIJAU

LEGENDA PUTRI HIJAU

Menurut legenda, dahulu di Kesultanan Deli Lama, sekira 10 km dari Medan, hidup seorang putri cantik bernama Putri Hijau. Kecantikan sang putri ini tersebar sampai telinga Sultan Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa. Sang pangeran jatuh hati dan ingin melamar sang putri. Sayang, lamarannya ditolak oleh kedua saudara Putri Hijau, yakni Mambang Yazid dan Mambang Khayali. Penolakan itu menimbulkan kemarahan Sultan Aceh.
Maka, lahirlah perang antara Kesultanan Aceh dan Deli. Konon, saat perang itu seorang saudara Putri Hijau menjelma menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Sisa “pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, di Desa Sukanalu
(Tanah Karo) dan di Deli Tua (Deli Serdang).
Pangeran yang seorang lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, mengundurkan diri melalui satu saluran dan masuk ke dalam Sungai Deli disatu tempat yang berdekatan dengan Jalan Putri Hijau sekarang. Arus sungai membawanya ke Selat Malaka dari tempat ia meneruskan perjalanannya yang terakhir di ujung Jambo Aye dekat Lhokseumawe, Aceh.
Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur. Permohonan tuan Putri itu dikabulkan.
Tetapi, baru saja upacara dimula, tiba-tiba berhembus angin rebut yang maha dahsyat disusul oleh gelombanggelombang yang sangat tinggi. Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga itu dengan menggunakan rahangnya yang besar itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut. Lagenda ini sampai sekarang masih terkenal dikalangan orang-orang Deli dan malahan juga dalam masyarakat Melayudi Malaysia.
Di Deli Tua masih terdapat reruntuhan benteng dari Putri yang berasal dari zaman Putri Hijau, sedangkan sisa meriam, penjelmaan abang Putri Hijau, dapat dilihat di halaman Istana Maimoon, Medan hingga saat ini.
LEGEND OF PRINCESS GREENAccording to legend, the first in the Sultanate of Deli Lama, approximately 10 km from Medan, there lived a beautiful princess named Princess Green. The princess's beauty spread up to the ears of the Sultan of Aceh to the north end of the island of Java. The prince fell in love and want to apply for the princess. Unfortunately, her application was rejected by the two brothers Putri Hijau, which Mambang Yazid and Mambang fictional. The rejection raises ire Sultan of Aceh.Thus, was born the wars between the Sultanate and Deli. That said, when it was a civil war Putri Hijau transformed into a hydra and a longer cannon continued firing him a soldier Aceh. The rest of the "broken" cannon that until now there in three places, namely in Maimoon, in the village of Sukanalu(Karo) and in Deli Tua (Deli Serdang).Prince is another who has turned into a dragon's, resigned through a channel and into the River Deli one place adjacent to Jalan Putri Hijau now. River flows brought into the waterway from where he continued on his way at the end of the last Jambo Aye near Lhokseumawe, Aceh.Green's daughter captive and put in a glass coffin loaded into vessels for onward brought to Aceh. When the ship reached the end Jambo Aye, please Putri Hijau held a ceremony for him before the coffin lowered from the ship. Upon request, must be submitted to him some rice and thousands of eggs. Princess lord petition was granted.But, just dimula ceremony, a sudden wind blows grab almighty followed by waveswaves very high. From the sea appears that his brother has been transformed into the dragon using the large jaws, and took the coffin where his brother locked up, and brought into the sea. Lagenda is until now still popular among the people Deli and even also in society Melayudi Malaysia.In Deli Tua there are ruins of a castle dating back to Putri Putri Hijau, while the rest of the cannon, brother incarnation Putri Hijau, can be seen on page Maimoon, Medan today.

0 komentar:

Post a Comment

tulislah komentar yang baik, kalau kritik boleh untuk membangun blog

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites