Saturday, 27 April 2013

DONGENG BAHASA INGGRIS/INDONESIA - KISAH SI PEMALAS DENGAN ABU HANIFAH


Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Keluhannya mengandungi kata-kata, "Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi lagi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah longlai. Oh, manakah hati yang belas ikhsan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik."
Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Sebaik saja dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi wang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya. Dalam pada itu, si malang berasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas beliau tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi wang dan secebis kertas yang bertulis, " Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cubalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."
Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu kedengaran lagi, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kelmarin,sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai untung nasibku." Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi wang dan secebis kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Orang itu terlalu riang sebaik saja mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya.
Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada cebisan kertas lalu dibacanya, "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian 'malas' namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak redha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan berbuat demikian. Hendak senang mesti suka pada bekerja dan berusaha kerana kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak perlu atau disuruh duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengkabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. carilah segera pekerjaan, saya doakan semoga sukses."
Sebaik saja dia selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sadar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha. Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikut peraturan-peraturan hidup (Sunnah Tuhan) dan tidak lagi melupai nasihat orang yang memberikan nasihat itu. Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajar kita untuk maju ke depan dan bukan mengajar kita tersesat di tepi jalan.


STORY BY sluggard Abu HanifaOne day when Imam Abu Hanifa was walking through a house window is still open, his voice was heard by people who complain and sobbed. Complaint contains the words, "Ah, what's my fate unfortunately, no one seems more unfortunate than this wretched fate. Since morning has not yet come from a bite of rice or any food in kerongkongku so my whole body became weak longlai. Oh, Where Twelve heart ikhsan are willing to give even a drop of water flow. "Hear the complaint, Abu Hanifah and feel sorry for him even back to his house and took the package to be given to that person. As good as he got to his house, he kept throwing packages containing money to the poor was then continued on his way. In the meantime, the poor feel shocked after finding a package that is not known where it came from, then he hastily opened. Once opened, it is obvious the package contained money and secebis paper that read, "Hey man, it's not fair the way you complain, you never need to complain diperuntungkan or fate. Remember the mercies of God and just try supplication to Him earnestly. Do not like despair, O friend, but try to continue. "The next day, Imam Abu Hanifa through the house again and voice complaints that sound again, "O Lord God Almighty Mercy and grace, kindly give another parcel as kelmarin, just to please my life is impoverished. Obviously if God does not give , my life would be Woe, O fortunately my fate. " Hear complaints that again, then Abu Hanifah was then toss again and secebis package containing paper money from outside the window, so he will continue his journey. That guy just got too exuberant as the bundle. Then continue to open.As before, too, in the bundle is still there cebisan last paper read, "Hey buddy, that's not how supplication, not as a way endeavored and attempted. Act as 'lazy' name. Despair to the truth and power of God. Redha It is not God see the shiftless and desperate, reluctantly works for his own safety. Do not do that. Interlocking happy must love to work and try kerana pleasure it might not come alone without sought or cultivated. living person does not need to or told to sit still but it should work and strive . Allah will not allow people who are lazy application work. Allah will not mengkabulkan prayers of the despairing. therefore, look for honest labor to pleasure yourself. Berikhtiarlah wherever possible with the help of God. Insha Allah, it will be able to also work as long as you do not despair. immediately look for a job, I pray for good luck. "As good as he finished reading the letter, he mused, he consciously aware of laziness that so far he does not like and trying endeavor. The next day, he came out of his home to look for work. Since that day, his attitude was changed to follow the rules of life (Sunnah God) and no longer melupai advice people give that advice. In Islam there is no term unemployment, this term is only used by people who have sense narrow. Islam teaches us to move forward and not teach us lost on the roadside.

0 komentar:

Post a Comment

tulislah komentar yang baik, kalau kritik boleh untuk membangun blog

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites