Saturday, 27 April 2013

MAKALAH - TELEVISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang 
Televisi saat ini adalah sarana elektronik yang paling digemari dan dicari orang. Untuk mendapatkan televisi tidak lagi sesusah zaman dahulu di mana perangkat komunikasi ini adalah barang yang langka dan hanya kalangan tertentu yang sanggup memilikinya. Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari 90% penduduk di negara berkembang. Televisi yang dulu mungkin hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu, saat ini bisa dinikmati dan sangat mudah dijangkau oleh semua kalangan tanpa batasan usia. Siaran-siaran televisi akan memanjakan orang-orang pada saat luang seperti saat liburan, sehabis bekerja, bahkan dalam suasana sedang bekerjapun orang-orang masih menyempatkan diri untuk menonton televisi. Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun, di balik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia baik anak-anak maupun orang dewasa. Kita harus berhati-hati sebab televisi selain bisa menjadi teman yang baik, bisa juga menjadi musuh yang menghanyutkan.
Dalam sebuah survei yang dilakukan lebih dari setengah anak-anak di AS mempunyai televisi di kamar mereka. Usia remaja paling banyak menonton televisi di kamar dan hampir sepertiga anak-anak pra sekolah mempunyai televisi di kamar mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi. Disebutkan juga adanya beberapa orang siswi sebuah sekolah yang bergantian bolos dari sekolah demi menonton sebuah tayangan opera sabun di televisi. Di Indonesia mungkin tidak sampai menjangkau persentase sebesar ini, namun pengaruh televisi juga telah banyak membentuk pola pikir dari anak-anak Indonesia pada umumnya. Dalam tayangan televisi saat ini terdapat banyak gaya kehidupan setan, seperti kekerasan yang membuat bulu kuduk merinding, vulgaritas, kejahatan, kebencian, seks bebas, penipuan, tatanan rambut yang radikal, dan lain-lain. Orang yang semakin sering menonton tayangan-tayangan seperti itu, pada akhirnya akan menerima hal itu sebagai sesuatu perbuatan yang normal. Dalam hal ini televisi telah menjadi propaganda terpenting yang dipakai setan saat ini terhadap manusia, baik dewasa maupun anak-anak. Tidak bisa disangkal bahwa dewasa ini televisi adalah salah satu guru elektronik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Apa yang harus dilakukan keluarga untuk mengatasi berbagai problema yang diakibatkan oleh tontonan televisi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Sejarah Televisi
1. Pengertian
Televisi (TV) berasal dari kata tale (jauh) dan vision(tampak) jadi televisi adalah suatu alat komunikasi yang tampak atau dapat dilihat dari jarak jauh.1
TV juga bisa dikatakan sebagai perangkat elektronik yang dapat disaksikan atau dinikmati. TV juga merupakan media massa, yaitu media elektronik yang terdapat berita (news), entertain (fasion dan lifestyle). Ada juga devinisi lain tentang TV, yaitu sebagai alat yang dapat menampilkan gambar pada layarnya yang berasal dari gelombang frekuensi tinggi tanpa perantara fisik.

2. Sejarah Munculnya Televisi
Fase-fase sejarah munculnya pembuatan televisi di dunia :
1.                  Michael Faraday dan James Clark Maxwell : Mendalami gelombang radio untuk mengirim gambar dan suara
2.                  Heinrich Hertz : Mengirim gelombang elektromagnetik jarak dekat
3.                  Morse : yang mengembangkan sinyal elektromagnetik mampu menempuh jarak jauh, yakni menyebrangi lautan, sekaligus beliau yang mempatenkan teknologi nirkabel
4.                  1926 : John L Baird, yang melakukan eksperimen mengenai pemancar TV pertama
5.                  1928 : F.F Alexanderson , melakukan percobaan dan demo pemancar televisi berukuran 3 inchi
6.                  1928 : TV pertama kali muncul di Jerman, sekaligus TV pertamakali muncul di dunia
7.                  1935 : TV pertama kali muncul di Perancis
8.                  1936 : TV di inggris
9.                  1939 : TV di AS
10.              1939 : Pesawat TV elektromagnetik pertama dengan 441 garis
11.              1941 : AS mengambil alih teknologi TV dengan komisi perhubungan AS yang mengeluarkan standarisasi TV dengan 525 garis.
12.              1951 : UHF channel dan TV berwarna muncul
13.              Sedangkan di Indonesia sendiri, TV pertamakali muncul pada tanggal 17 Agustus 1962, pada saat HUT RI ke-17, sebagai kado ulang tahun RI, TVRI muncul pertama kali dengan siaran langsung upacara bendera, siaran pertama ini adalah siaran uji coba.
TVRI resmi mengudara pada tanggal 24 Agustus 1962 yang bertepatan dengan Sea Games ke-4 di Gelora Bung Karno.
B. Setting Sosial Budaya Televisi
Televisi di zaman ini sangatlah membudaya. Tak sedik pula masyrakat yang memiliki media ini. Hampir semua kalngan memiliki televisi. Selain berguna sebagai hiburan, televisi juga bisa menjadi kiblat dalam berpenampilan. Semakin tenarnya sebuah style maka semakin banyak pula media yang meliput.
Televisi disini banyak di gemari oleh berbagai usia. Hal tersebut terjadi karena banyaknya stasiun-stasiun televisi yang berlomba-lomba menarik perhatian pemirsa tak peduli pemirsa itu dari usia berapapun. Di lihat dari sudut pandang tersebut, jelas dapat kita simpulkan bahwa televisi adalah media komunikasi yang paling banyak digemari dan juga di konsumsi. Bahkan tele
1. Tujuan Televisi
+ Sebagai alat informasi
+ Hiburan
+ Kontrol sosial
+ Penghubung wilayah secara geografis
secara langsung tujuan yang televisi sangatlah bagus akan tetapi kebanyakan acara di dunia pertelevisian kali ini lebih cenderung pada sesuatu hal yang negative. Dari segi jam tayang, porsi konsumsi umur, tayangan yang tidak memiliki mutu dalam kehidupan ataupun tayangan yang menjanjikan ssuatu yang belum pasti adanya.
3. Efek buruk Televisi Terhadap Masyarakat    
Televisi merupakan alat komunikasi media public yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat umum. Di bandingkan dengan media massa lainnya televisi adalah salah satu media massa yang paling banyak digemari oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Untuk itulah pengaruh televisi sangat besar terhadap pola hidup masyarakat. Televisi sangatlah bersifat destruktif setidaknya bersifat lebih banyak mengandung unsur eksploitasi dibandingkan sisi eksplorasi. Sebab kebanyakan acara televisi lebih banyak menayangkan acara yang mematikan kreativitas sehingga kita lebih cenderung jalan di tempat.
Adapun efek negativ televisi terhadap masyrakat, yaitu:
1.                  Kognitif, efek ini melahirkan pengetahuan bagi pemirsa dan efek ini juga bisa menimbulkan kenegativan jika pengetahuan tersebut tidak sesuai dengan porsinya atau tidak lumrah untuk dikonsumsi. Contoh: anak-anak di bawah umur menyaksikan adegan vulgar.
2.                  Imitasi (peniruan), efek yang yang paling besar dalam televisi, bisa di katakana efek negativ jika imitasi tersebut tidak di saring secara benar oleh pemirsa. Contoh: meniru gaya barat (westernis) seperti freesex
3.                  Dampak behavior (perilaku), biasanya dampak ini lebih banyak dirasakan oleh para remaja. Contoh negativ: banyaknya para remaja yang mengikuti perilaku remaja ibu kota dan kebanyakan perilaku negativ (dugem, kekerasan. dll)

4.      Bahaya Tontonan Kekerasan Bagi Anak 
Tontonan kekerasan yang disajikan pada sebuah televisi akan berpengaruh sekali terhadap perilaku anak, karena secara tidak langsung anak itu dapat meniru tayangan kekerasan di televisi, di kemudian hari, dan biasanya diperagakan pada teman-temannya. Karena fase anak-anak memang fase meniru, dan tak heran bila anak-anak sering disebut imitator ulung. Jenis film-film laga kepahlawanan (hero) selalu menarik perhatian dan disenangi anak-anak termasuk balita, sehingga mereka tahan berjam-jam duduk di depan layar kaca. Karena selain menghibur, yang terutama bikin anak-anak kecanduan ialah unsur thrill, suasana tegang saat menunggu adegan apa yang bakal terjadi kemudian. Tanpa itu, film cenderung datar dan membosankan, dan selain itu permainan game juga intern karena di sana ada target, entah menjatuhkan atau mematikan lawan, dan jika (dilakukan) bertahun-tahun tayangan itu bisa menjadi rangsangan untuk berbuat. Kekerasan yang ditayangkan di TV tak hanya muncul dalam film kartun, film lepas, serial dan sinetron. Adegan kekerasan juga tampak pada hampir semua berita, khususnya berita kriminal. TV swasta di Indonesia terkadang lebih “kejam” dalam menggambarkan korban kekerasan, misalnya dengan ceceran darah atau meng-close up korban. Jadi, orang tua jangan terkecoh dengan hanya menyensor adegan seksual, misalnya ciuman. Adegan kekerasan, mulai dari tembakan, darah, gebuk-gebukan, perlu juga disensor.
Menurut Ron Solby dari Universitas secara terrinci menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat; kedua, dampak korban di mana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain; ketiga, dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain; keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan. 
Banyak anak begitu betah menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi. Menurut mereka, televisi adalah cara terbaik untuk menyingkirkan perasaan tertekan, atau untuk mencoba lari dari perasaan itu.
Yang menarik, ada hubungan nyata antara kebiasaan menonton TV dengan tingkatan pengawasan orang tua. Pengawasan itu berupa pengenalan orang tua akan teman-teman sang anak di mana mereka berada sepanjang hari. Selain itu, apakah orang tua juga menetapkan dan menjalankan peraturan pembatasan waktu bermain di luar rumah atau nonton TV. Anak yang tidak diawasi dengan ketat akan menonton TV lebih banyak dibandingkan anak-anak yang lain. 
Menurut Aletha Huston Ph.D dari University of Kansas, “Anak-anak yang menonton kekerasan di TV lebih mudah dan lebih sering memukul teman-temannya, tak mematuhi aturan kelas, membiarkan tugasnya tidak selesai, dan lebih tidak sabar dibandingkan dengan anak yang tidak menonton kekerasan di TV.” 
Tapi, tidak semua pihak setuju dengan pendapat Aletha, bahwa kekerasan di TV berakibat langsung pada perilaku. Satu kajian oleh para ahli ilmu jiwa Inggris menyebutkan, tak ada kaitan langsung antara kekerasan di TV dengan perilaku anak. Namun ada syarat yang dipenuhi. “Tak ada yang lebih baik daripada keluarga yang hangat, sekolah yang bermutu, dan masyarakat yang peduli. Kalau ketiga aspek itu terpenuhi, tak ada masalah dengan kekerasan yang ditonton.”
Film laga harus pula dilihat dari aspek positifnya, yaitu bahwa anak membutuhkan figure pahlawan, jagoan, dan heroisme. Di sinilah peran orang tua untuk mengajaknya menarik garis perbedaan antara dunia nyata dan film. Seperti yang dikatakan Modeline Levine, Ph.D. Psikolog di Marin Country, California, “Pada umur 9 tahun, anak bari bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi.” 
Orang Tua Contoh Model Anak 
Dari berbagai kemungkinan masalah yang bisa timbul, tentu peran orang tua tidak bisa diabaikan. Sikap orang tua terhadap TV akan mempengaruhi perilaku anak. Maka sebaiknya orang tua lebih dulu membuat batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Biasanya dikala lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton TV. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin, artinya anda bisa melakukan kegiatan lain, kalau sedang jenuh, anak akan tahu ada banyak acara beraktifitas selain menonton TV. Usahakan TV hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bermain bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat, berjalan-jalan, dan menikmati makan bersama keluarga. Sebenarnya, umumnya anak-anak senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri maupun bersama orang tuanya. Hal penting kedua adalah mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak acara TV yang ditonton. Tujuannya, agar anak menjadikan kegiatan menonton TV hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan. Ia menonton hanya bila perlu. Untuk itu, video kaset bisa berguna, rekam acara yang anda sukai, lalu tonton kembali bersama-sama pada saat yang sudah ditentukan. Cara ini akan membatasi, karena anak hanya manyaksikan apa yang ada di rekaman itu. Masalah jenis program yang ditonton sangat penting dipertimbangkan sebab itu menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang kerap muncul dalam suatu acara, kadang ada acara yang bagus karena memberi pesan tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan, atau adegan-adegan pacaran, rayuan, yang kurang cocok untuk anak-anak. Maka sebaiknya orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak, usia anak dan kedewasaan, mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks, orang tua sebaiknya bisa memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika sedang menonton dengan anak tiba-tiba nyelonong adegan “Saru”. 
Masalah bahasa pun perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu kata kurang sopan untuk ditiru. Orang tua bisa menjelaskannya sebagai ungkapan untuk keadaan khusus, terutama di TV untuk mencapai efek tertentu. 
Dua jam sudah cukup, kapan dan berapa lama anak boleh menonton TV, semua itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka bersama. Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau justru sore hari.
Anak yang sudah bersekolah harus dibatasi, misalnya hanya boleh menonton setelah mengerjakan semua PR. Berapa jam? Menurut Jade Murphy dan Karen Tucker – Produser acara TV anak-anak dan Penulis – sebaiknya tidak lebih dari 2 jam sehari, itu termasuk main komputer dan video game. Untuk anak yang belum bersekolah atau sering ditinggal orang tuanya di rumah, porsinya mungkin bisa sedikit lebih banyak. 
Memberikan batasan apa, kapan, dan seberapa banyak menonton acara TV juga akan mengajarkan pada anak bahwa mereka harus memilih (acara yang paling digemari), menghargai waktu dan pilihan, serta menjaga keseimbangan kebutuhan mereka.
Agar sasaran tercapai, disiplin dari pengawasan orang tua mutlak diperlukan. Sayangnya, unsur pengawasan ini yang sering jadi titik lemah orang tua yang sibuk dengan pekerjaan sehari-hari di kantor.
“Untuk itu, orang tua memang dituntut untuk cerewet. Tidak apa-apa agak cerewet demi kebaikan anak-anak.” Ujar Fawjia.
Kekerasan memang sulit dipisahkan dari industri hiburan. Sama sulitnya jika harus mencari siapa yang harus disalahkan terhadap masuknya tayangan kekerasan dalam industri hiburan. Kita akan terjebak dalam lingkaran setan: Produser, Pengelola TV, Sutradara, Pengiklan, maupun penonton sendiri. Sementara menangkap setannya lebih sulit, tindakan yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan pengaruh tersebut, khususnya terhadap anak-anak, kuncinya mulai dari lingkungan keluarga.
BAB II
KESIMPULAN DAN SARAN
A.     Kesimpulan 
Berdasarkan kajian sebagaimana di uraikan di atas penulisan menyimpulkan hal–hal yang berkaitan dengan penyelesaian permasalahan sebagai berikut 
1. Dari sekian banyak tayangan yang disajikan televisi, kebanyakan dapat mempengaruhi sikap penontonnya setelah atau pada saat melihat tayangan televisi. Sehingga hal ini baik secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi akhlak penontonnya baik pengaruh yang positif maupun pengaruh yang negatif.
2. Tayangan televisi yang menyajikan acara hiburan atau acara bernuansa kekerasan maka biasanya anak-anak cenderung menyukai tayangan tersebut karena apa yang ditonton di tayangan televisi biasanya anak cenderung akan menirunya sehingga takut akan merusak akhlak anak.
B. Saran– saran 
1. Pilihlah program acara televisi yang memang benar – benar bermanfaat bagi seluruh keluarga 
2. Gunakan televisi yang ada hanya sebagai media untuk mendapatkan informasi penting seperti cerita
3. Tentukan dan bedakan waktu menonton televisi bagi anak – anak yang belum dan sudah dewasa 
4. Batasi waktu menonton televisi untuk anak – anak
5. Alihkan perhatian dan kegemaran anak – anak dalam keluarga dari kecanduan menyaksikan seluruh acara televisi yang di sajikan di setiap harinya kepada bentuk – bentuk kegiatan dan kesenangan baru yang positif seperti membaca dan mempelajari al-qur'an dan hadits, membaca koran, membaca buku dan lain sebagainya.
 
DAFTAR PUSTAKA
Mansur, awadl, Dr. (1993). Manfaat Dan Mudarat Televisi, Fikahati Anska, Jakarta
Chen, Milton. (2005). Mendampingi Anak Menonton Telivisi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
 
__________ (1997). Undang–Undang Penyiaran No. 24 Tahun 1997, Sinar Gratika, Jakarta
 
Amin, Ahmad, (1968). Ilmu Akhlak, Bulan Bintang, Jakarta.
Bakar Atjeh, Abu (1963). Mutiara Akhlak 1, Bulan Bintang, Jakarta.
Umary, Barmawie, Drs. (1966), Materia akhlak, Cv. Ramadani, Yogyakarta .
 



1 komentar:

Terima Kasih atas info-nya....

Post a Comment

tulislah komentar yang baik, kalau kritik boleh untuk membangun blog

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites